Results 1 to 8 of 8
  1. #1
    Murid Krucil Jolodong's Avatar
    Join Date
    Jan 2010
    Location
    Semarang
    Posts
    146
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Thumbs up Tata kota kolonial belanda di semarang

    1. Pengertian Kota
    Sebelum membahas tentang tata kota semarang pada masa colonial terlebih dahulu harus dimengerti apa itu kota. Defini klasik kota adalah suatu permukiman yang yang relatif besar, padatdan dan permanen, , terdiri dari kelompok individu--individu yang heterogendari darisegi social. Sedangkan definisi modern kota adalah suatu Permukiman yang dirumuskanbukan bukan dari cirri morfolgi kota tetapidari suatu fungsi yang menciptakan ruang—ruang efektif melaluipengorganisasian ruang dan hirarki tertentu.
    Kota memiliki konsep dasar pembengunan. Konsep kota yang ideal terbagi dalam beberapa daerah-daerah peruntukan yaitu :
    ü Pusat pemerintahan------ Aspek Politik
    ü Pusat Perdagangan------ Aspek Ekonomi
    ü Pusat permukiman------- ------- Aspek Sos--Bud
    ü Pusat Sarana Permukiman

    2. Ringkasan Perkembangan Tata Kota di Semarang
    Bentuk kota Semarang saat ini sangatlah berbeda dengan bentuk kota Semarang pada masa awal mulanya. Van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda, mengemukakan satu teorinya, bahwa garis pantai utara pulau Jawa pada jaman dahulu terletak beberapa kilometer menjorok ke daratan saat ini. Laju pengendapan lumpur yang membuat endapan tanah baru bergerak dengan kecepatan 8 m per tahun. Endapan lumpur tersebut berasal dari Demak yang mengalir melalui sungai Kali Garang. Bentuk dari garis pantai tahun 900 dapat dilihat pada gambar A, di mana garis perbukitan Bergota merupakan garis pantai pada saat itu.

    Pada tahun 900 sampai 1500 merupakan masa permulaan endapan alluvial. Pembentukannya dimulai dari sedimentasi endapan lumpur dari daerah Muara yang berasal dari Kali Kreo, Kali Kripik dan Kali Garang. Semarang merupakan satu kota besar dan merupakan kota perdagangan dari kerajaan Demak. Pada tahun 1476 Kiai Ageng Pandanaran mulai membangun pemukiman Pribumi. Awal 1500 Garis pantai Semarang teah mencapai daerah Sleko saat ini. Pada saat itu pelabuhan Semarang telah menjadi pelabuhan penting dan terkena, sehingga banyak kapal dagang asing berlabuh di sana. Pedagang Cina mendarat sekitar permulaan abad 15, Portugis dan Belanda pada permulaan abad 16, dari Malaysia, India, Arab dan Persia pada permulaan abad 17. Para pendatang tersebut membuat pemukiman-pemukiman etnis masing-masing.
    Orang-orang Belanda dan Melayu mendirikan permukimannya di muara Kali Semarang, orangorang Cina bermukim di sekitar Simongan dan Perkampungan Jawa di sepanjang Kali Semarang. Pada saat itu Semarang masuk dalam wilayah pemerintahan Susuhunan Surakarta, tetapi kemudian digadaikan ke pemerintahan Belanda, karena Susuhunan meminjam uang dari VOC dalam jumlah yang besar. Semarang selanjutnya menjadi basis militer dan pusat perdagangan Belanda. Karena sering timbul konflik dan peperangan dengan rakyat yang tidak menghendaki Semarang dibawah kekuasaan Belanda, maka kemudian pada tahun 1600, Belanda membangun benteng di pusat Kota Semarang. Di dalam Benteng ini kemudian berkembang pula sebagai perkampungan Belanda.Benteng ini memiliki lima menara pengawas


    Wilayah kota Semarang berkembang pesat pada pertengahan abad 18 dengan membangun banyak bangunan perkantoran dan fasilitas sosial. (gambarD). Kota Semarang semakin berkembang dan banyak jalan-jalan baru dibangun pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda juga memindahkan pemukiman Cina dari daerah Simongan (Gedung Batu) ke pemukiman baru dekat pemukiman Belanda yang sekarang dikenal dengan Pecinan Semarang, karena orang Cina memberontak membantu Sultan Surakarta melawan Belanda. Ada dua kawasan pemukiman besar, yaitu Pemukiman Belanda dibawah pemerintahan gubernur Belanda, yang mengurus daerah di dalam Benteng dan penduduknya dan pemukiman pribumi yang berada di luar gerbang benteng. Di dalam Benteng berkembang menjadi satu pemukiman dan kota tersendiri dan berfungsi mengatur seluruh kota Semarang, karena di dalam Benteng inilah terdapat pusat pemerintahan. Ketika perkembangan perekonomian Belanda semakin meningkat, maka mulai dibangun vila-vila di Bojong dan Randusari di sekitar tahun 1758.
    Pemukiman Pribumi juga berkembang sampai Poncol, Randusari, Depok dan lain-lain. Pada saat itu jalan penghubung antara Bojong dan Depok juga mulai dibangun. Dilanjutkan dengan pembangunan jalan Mataram sampai utara batas kota dan jalan Ronggowarsito sampai pantai utara, jalan Bulu, Jagalan dan jalan Petudungan.
    Dalam Staatsblatt 1906, Nomer 120, dijelaskan, bahwa pemerintahan Semarang disebutkan sebagai Staadsgemeente van Semarang“. Hal in berarti, bahwa Semarang bukan lagi dipimpin oleh Bupati. Hal ini disebabkan Semarang sudah menjadi kota besar dengan permasalahan yang lebih kompleks. Pelabuhan Tanjung Mas dan Bandara Kalibanteng mulai dibangun sekitar tahun 1931 sampai 1933, bersamaan dengan pembangunan Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Tahun 1930 Ingenieur Herman Thomas Karsten mengajukan rencana master plan untuk pengembangan kota Semarang. Tahun 1942 terjadi perang dunia II yang mngakibatkan perpindahan kekuasaan dari Belanda ke pemerintahan Jepang. Hal menjadikan perkembangan kota Semarang mulai tersendat. Tentara Jepang malah banyak melakukan perusakan di mana-mana. Setelah Jepang kalah perang dan meninggalkan Indonesia, dimulai lagi perkembangan kota Semarang. Batas kota Semarang mulai lagi melebar. Sejak awal tahun 1950 pemukiman di Krobokan, Seroja, Pleburan, Jangli, Mrican dll mulai berkembang pesat. Pusat perdagangan juga mulai bermunculan seperti pasar Johar, Bulu, Dargo, Karangayu dan Pasar Langgar. Sarana trasportasi modern juga semakin lengkap dengan adanya stasiun Bubakan. Selanjutnya daerah Srondol berkembang menjadi pusat perdagangan dan industri.

    3. Penerapan Kota Lama Semarang Sebagai Kota Ideal Pada Masa Kolonial
    Kota Lama Semarang terletak di Kelurahan Bandarharjo, kecamatan Semarang Utara. Batas Kota Lama Semarang adalah sebelah Utara Jalan Merak dengan stasiun Tawang-nya, sebelah Timur berupa jalan Cendrawasih, sebelah Selatan adalah jalan Sendowo dan sebelah Barat berupa jalan Mpu Tantular dan sepanjang sungai Semarang. Luas Kota Lama Semarang sekitar 0,3125 km2.
    Seperti kota-kota lainnya yang berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda, dibangun pula benteng sebagai pusat militer. Benteng ini berbentuk segi lima dan pertama kali dibangun di sisi barat kota lama Semarang saat ini. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberinama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten. Pemerintah Belanda memindahkan pemukiman Cina pada tahun 1731 di dekat pemukiman Belanda, untuk memudahkan pengawasan terhadap segala aktifitas orang Cina. Oleh sebab itu, Benteng tidak hanya sebagai pusat militer, namun juga sebagai menara pengawas bagi segala aktifitas kegiatan orang Cina. Kemudian permukiman Belanda mulai bertumbuh di sisi timur benteng „Vijfhoek“. Banyak rumah, gereja dan bangunan perkantoran dibangun di pemukiman ini. Pemukiman ini adalah cikal bakal dari kota lama Semarang. Pemukiman ini terkenal dengan nama “de Europeeshe Buurt“. Bentuk tata kota dan arsitektur pemukiman ini dibentuk mirip dengan tata kota dan arsitektur di Belanda. Kali Semarang dibentuk menyerupai Kanal-kanal di Belanda. Pada masa itu benteng “Vifjhoek“ belum menyatu dengan pemukiman Belanda .
    Kota lama Semarang direncanakan sebagai pusat dari pemerintahan kolonial Belanda dengan banyak bangunan kolonialnya. Ini terjadi setelah penandatanganan perjanjian antara Mataram dan VOC pada tanggal 15 Januari 1678. Dalam perjanjian tersebut dinyatakan, bahwa Semarang sebagai Pelabuhan utama kerajaan Mataram telah diserahkan kepada pihak VOC, karena VOC membantu Mataram menumpas pemberontakan Trunojoyo. Mulai tahun 1705, Semarang menjadi milik secara penuh V.O.C. Sejak saat itu mulai
    muncul banyak pemberontakan. Dan suasana menjadi tidak aman lagi. Belanda membangun Benteng untuk melindungi pemukimannya. Benteng yang terletak di sisi barat kota lama ini di bongkar dan dibangun benteng baru yang melindungi seluruh kota lama Semarang. Pada dinding sebelah barat terltak di sepanjang jalan Mpu Tantular (dahulu Wester-wal-Straat“) dan Kali Semarang. Kehidupan di dalam Benteng berkembang dengan baik. Mulai banyak bermunculan bangunanbangunan baru. Pemerintah Kolonial Belanda membangun gereja Kristen baru yang bernama gereja “Emmanuel“ yang sekarang terkenal dengan nama “Gereja Blenduk“. Pada sebelah utara Benteng dibangun Pusat komando militer untuk menjamin pertahanan dan keamanan di dalam benteng. Menjelang abad 20 kota lama semakin berkembang pesat dan banyak dibangun kantor perdagangan, bank, kantor asuransi, notaris, hotel, dan pertokoan. Di sisi Timur gereja Belenduk, dibangun lapangan terbuka yang digunakan untuk parade militer atau pertunjukan musik di sore hari.



    REFERENSI

    Muljadinata, A. S., Karsten dan Penataan Kota Semarang, (Thes. Mag. Arch., Institut Teknologi Bandung. 1993).

    Purwanto,L.M.F, Kota Kolonial Lama Semarang,Tinjauna Umum Sejarah Perkembangan Arsitektur Kota,(Universitas Kristen Petra, 2005),hLm 27-33.
    Sumaningsih, Y.T., Sistem Visual Kawasan Pusat Kota Lama, studi kasus: Pusat Kota Lama Semarang, (Thes. Mag. Arch., Universitas Gadjahmada Yogyakarta. 1995).
    Tio, jongkie, . Kota Semarang Dalam kenangan.Prefrom Project, 2002.
    Yunus, Hadi Sabari, Stuktur Tata Ruang Kota, (Yogyakarta : Puataka Pelajar, 1999).


    Newbie tidak menolak Cendol.
    Budayakanlah klik "THANKS"......

  2. #2
    Tukang Download
    Join Date
    Apr 2008
    Posts
    39
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Nice post! .. Orang londo sebenernya sangat bagus dalam merancang tata kota, ngga salah alm. Nenek gw pernah bilang .. Semarang lebih tertata kotanya pada masa penjajahan daripada kemerdekaan .. Awal kemerdekaan kondisi semuanya serba semrawut, tanah di patok-i sembarangan, bangunan didirikan asal-asalan tanpa mempertimbangkan kegunaan jangka panjang. Ya salah satu akibatnya sekarang Semarang ngga mampu menahan abrasi pantai, tanah yang menurun ketinggiannya, permukaan air laut yang makin tinggi ..

  3. #3
    Murid Krucil Jolodong's Avatar
    Join Date
    Jan 2010
    Location
    Semarang
    Posts
    146
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Quote Originally Posted by ndembiq View Post
    Nice post! .. Orang londo sebenernya sangat bagus dalam merancang tata kota, ngga salah alm. Nenek gw pernah bilang .. Semarang lebih tertata kotanya pada masa penjajahan daripada kemerdekaan .. Awal kemerdekaan kondisi semuanya serba semrawut, tanah di patok-i sembarangan, bangunan didirikan asal-asalan tanpa mempertimbangkan kegunaan jangka panjang. Ya salah satu akibatnya sekarang Semarang ngga mampu menahan abrasi pantai, tanah yang menurun ketinggiannya, permukaan air laut yang makin tinggi ..
    sampai tahun 1960-an,jembatan berok deket pasar johar masih bisa dibuka dan ditutup untuk lalu lintas perahu dan kapal Gan....tapi nasibnya sekarang malah untuk usaha perlendiran yang tampaknya nikmat kali tu.....hahahaha....

  4. #4
    Murid Krucil
    Join Date
    Aug 2008
    Posts
    108
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Sayang bgt skrg semarang utara kesannya kumuh dan kotor...pemkot musti studi banding ke belanda buat menata ulang daerah kota lama
    Posted via dekills Mobile Device

  5. #5
    Tukang Download
    Join Date
    Feb 2012
    Posts
    13
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    penjajah milih bangun kotanya deket ama pantai, suka sama aer apa biar gampang kabur ya

  6. #6
    Murid Krucil Jolodong's Avatar
    Join Date
    Jan 2010
    Location
    Semarang
    Posts
    146
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Quote Originally Posted by harry_botak View Post
    Sayang bgt skrg semarang utara kesannya kumuh dan kotor...pemkot musti studi banding ke belanda buat menata ulang daerah kota lama
    Posted via dekills Mobile Device
    Pemkot era SUkawi Sutarip udah sering studi banding ke Belanda Suhu.tapi implementasi dari hasil studi bandingnya NOL BESAR!!!

  7. #7
    Murid Krucil Jolodong's Avatar
    Join Date
    Jan 2010
    Location
    Semarang
    Posts
    146
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Quote Originally Posted by ruthvangooh View Post
    penjajah milih bangun kotanya deket ama pantai, suka sama aer apa biar gampang kabur ya
    karena jaman dulu belum ada bandara suhu....

  8. #8
    Tukang Download
    Join Date
    May 2012
    Posts
    55
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Nice share gan... Thx

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •